Pasal Kebal Hukum UU BUMN Mencederai IDE Besar Presiden Prabowo ai

[gspeech]

J A K A R T A  –  Pendiri  Haidar Alwi Institute (HAI),  R Haidar  Alwi  menilai,  pasal  ‘kebal  hukum’ dalam  Undang – Undang  BUMN  terbaru berpotensi  mencederai  ide  besar  Presiden Prabowo  Subianto  dan  ayahnya  Begawan  Ekonomi  Sumitro Djojohadikusumo  tentang  Danantara.

 

Bacaan Lainnya

“Penting  untuk  memastikan  agar  ide besar  tersebut  tidak  dicederai  oleh kepentingan  pihak  tertentu  yang  ingin menghindari  proses  hukum  atas  potensi-potensi  kerugian  negara  dalam pengelolaan  BUMN,”  kata  R  Haidar  Alwi, Selasa  (6/5/2025).

 

Dari  sejumlah  pasal  yang  menjadi kontroversi,  yang  paling  menarik perhatiannya  adalah  Pasal  4B  berikut dengan  penjelasannya  Bahwa  kerugian yang  dialami  BUMN  bukan  merupakan kerugian  negara.

 

“Sehingga  aparat  penegak  hukum  seperti Kejaksaan,  KPK  dan  Polri  tidak  dapat lagi  melakukan  penyelidikan  dan penyidikan  dugaan  korupsi  BUMN meskipun  secara  nyata  terdapat  kerugian,” jelas  R  Haidar  Alwi.

 

Sebab,  dalam  Pasal  2  dan  Pasal  3 Undang  Undang  Tipikorterdapat  tiga unsur  yang  harus  terpenuhi  agar seseorang  bisa  dinyatakan  bersalah  Salah satu  unsur  tersebut  adalah  adanya kerugian  negara.

 

“Karena  kerugian  BUMN  bukan merupakan  kerugian  negara,  maka  unsur utama  dalam  Pasal  2  dan  Pasal  3 Undang  Undang  Tipikor  tidak  mungkin terpenuhi,”  ungkap  R  Haidar  Alwi.

 

Hal  itu  menjadi  paradoks  di  tengah realitas  maraknya  perkara  korupsi  di sejumlah  BUMN  seperti  kasus  Pertamina,  Timah,  Telkom,  KAI, Asabri,  Jiwasraya  dan  lain-lain.

 

Secara  mutatis  mutandis  akan menimbulkan  konsekuensi  hukum  adanya ketimpangan  dalam  penegakan  hukum khususnya  pemberantasan  korupsi lantaran  adanya  perlakuan  khusus  kepada  BUMN  yang  notabene  bersamaan kedudukannya  di  hadapan  hukum.

 

“Bertentangan  dengan  asas  hukum universal  yang  sangat  populer  yaitu ‘equality  before  the  law’  atau  kesetaraan di  hadapan  hukum  Dalam  konstitusi Indonesia  asas  tersebut  tertuang  dalam Pasal  27  Ayat  1  dan  Pasal  28D  Ayat  1 UUD  1945,”  tegas  R  Haidar  Alwi.

 

MenurutnyaPresiden  Prabowo  Subianto  sebagai  seorang  nasionalis  sejati  tentu  tidak  ingin  aturan-aturan yang  berpotensi  mengebiri  upaya pemberantasan  korupsi  apalagi  yang berbenturan  dengan  konstitusi.

 

“Jantungnya  merah-putih  Sumpahnya setia  pada  konstitusi  Dan  komitmennya tegas  memberantas  korupsi  Atas  dasar cinta  pada  pemimpin  dan  republik  ini, makanya  kita  kawal  dengan  mengkritisi,” pungkas  R  Haidar  Alwi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *