Martapura, Garuda Expres.id – Aktivitas tambang batu split atau batu pecah di Desa Lengot, Tumi Jaya dan Desa Kembang Jayapura, Kecamatan Jayapura, Kabupaten OKU Timur, Sumsel menimbulkan keluhan yang sangat serius di kalangan masyarakat Jayapura.
Hingga saat ini, warga mengaku masih terganggu dengan suara ledakan dinamit dan dampak debu yang ditimbul dari pemecahan batu di kawasan tersebut dan lebih ironisnya, belum ada upaya penertiban atau solusi nyata dari pihak pemerintah kabupaten OKU Timur. Hal ini, membuat salah satu tokoh masyarakat Martapura, Ihsan Efendi, angkat bicara.
Ihsan mengaku, dalam beberapa pekan ini, ia sudah beberapa kali mengecek aktivitas tambang batu pecah di Desa Lengot dan Tumi Jaya.
“Saya sudah beberapa kali masuk dan mengeceknya, ternyata aktivitas pecah batu masih beroperasi, bahkan bertambah marak. Warga juga masih mengeluhkan getaran dari ledakan dinamit yang digunakan untuk memecah batu. Rumah-rumah warga ada yang sudah retak, tapi belum ada upaya penertiban dari pemerintah setempat,”Ucapnya pada Selasa (21/4/2026) pada portal ini.
Menurut dia, hampir sebagian besar pemilik usaha tambang dan pabrik berasal dari luar daerah OKU Timur, Sumsel.
“Orang dari luar yang mengeruk SDA di OKU Timur dan masyarakat jadi korban. Sementara pemerintah kita hanya jadi penonton,”Paparnya.
Lebih lanjut dia berharap kepada semua pihak pemerintahan OKU Timur, Provinsi Sumatra Selatan hingga kementerian serta aparat penegak hukum (APH) dapat bertindak tegas dengan melakukan penertiban atau penutupan terhadap tambang-tambang yang menyalahi aturan.
“Jangan terkesan ada pembiaran, setelah banyak masyarakat yang jadi korban menjerit baru mau bertindak,”Imbuh ikhsan.
Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten OKU Timur, Feri H mengungkapkan hal yang sama. Ia mengaku tidak bisa berbuat banyak karena tidak memiliki kewenangan baik terhadap AMDAL maupun fungsi pengawasan.
“Kami tidak ada apa-apa, hanya jadi penonton. Semua izin di DLH Provinsi Sumsel. Izin AMDAL juga di DLH provinsi, kami hanya sebatas memeriksa saja dan tidak bisa apa-apa. Fungsi pengawasan juga tidak ada,” kata Feri seraya mengeluh.
Bahkan, ketika ditanya data mengenai jumlah tambang atau pabrik batu split di kedua desa tersebut, Feri mengaku tidak tahu secara pasti.
“Saya tidak tahu jumlahnya, tapi yang pasti jumlahnya puluhan,”Tutup dia.





